Senin, 03 Desember 2018
Minggu, 11 November 2018
Jumat, 05 Oktober 2018
Selasa, 18 September 2018
Cake Pembawa Cinta
Cake Pembawa Cinta
Ini adalah hati pertama Sinta masuk sekolah, dia sekolah di SMA Padjajaran. Pagi-pagi Sinta bangun tidur dan aku segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah, sebelum berangkat sekolah dia membantu ibunya membungkus cake yang akan dia bawa ke sekolah untuk dititipkan ke kantin sekolah. Setelah selasai mebungkus cake dia bergegas berangkat sekolah naik sepeda peninggalan dari ayahnya.
“Tin tin tin” suara klakson mobil berbunyi
“gubrak” aku dan sepedaku terjatuh, bajuku kotor dan cake ku berantakan , aku menangis dan mobil yang menyempretku pergi begitu saja, aku segera memunguti semua cakeku dan melanjutkan ke sekolah. Setelah sampai di sekolah aku langsung menuju ke kantin.
“ nak kenapa kok cake nya begini?” tanya bu maria.
(Bu maria adalah penjual makanan di kantin sekolah yang baik dan ramah).
“ tadi habis jatuh terserempet mobil bu dan mobilnya pergi begitu saja, maapkan saya ya bu” jawab Sinta
(Sinta adalah seorang gadis yang hanya tinggal dengan ibunya karena ayahnya sudah meninggal, dia memiliki sifat yang pemalu, mudah memaafkan dan suka membantu ibunya, dia tidak disukai teman-temannya karena dia dianggap cupu dan kampungan).
“ yaudah gapapa nak, lain kali hati-hati ya” jawab bu maria
“iya bu” kemudian Sinta menata cakenya di meja-meja yang telah di sediakan
“ini udah rapi semua cakenya bu saya permisi dulu ya bu mau ke kelas dulu” ujar Sinta
“ iya nak belajar yang rajin ya, nanti kalo udah selesai kembali kesini lagi ngambil kotak cake dan uang hasil penjualan” saut bu maria
“ke buk makasih ya” jawab Sinta
Sinta menuju ke ruang kelasnya, ketika mau naik tangga teman-temannya melihat Sinta dan mengejeknya dengan sebutan anak kampungan dan cupu. Tetapi Sinta hanya diam dan tidak menanggapi ejekan teman-temannya. Ketika mau memasuki ruang kelas tiba-tiba ada yang menabrak Sinta dari dalam ruang kelas.
“kamu punya mata tidak, jalan nggak liat-liat” kata Mark sambil marah-marah
(Mark adalah ketua osis kelas yang banyak digemari semua siswi di SMA Padjajaran karena kegantengannya dan cool).
“ma-maaf saya tadi tidak tahu kalau kamu mau keluar dari ruang kelas” jawab Sinta
Mark menatapnya dan langsung pergi, lalu Sinta masuk dan langsung duduk.
“ heh Loe tadi ngapain sama Mark sok akrab lagi, gausah sok cantik deh, loe itu cupu dan nggak pantes sama Mark” kata Luna and the genk nya.
(Luna adalah gadis cantik, kekinian, dan menggunakan segala cara buat dapetin Mark karena dia menyukai Mark setengah mati).
“tadi nggak sengaja aku menabrak Mark” jawab Sinta
“gausah alasan deh loe gue tahu loe pasti modus suoaya Mark kasian sama loe kan” jawab Luna degan nada tinggi
“ti-tidak saya nggak ada maksud gitu kok” jawab Sinta dengan menunduk
Waktu pulang telah tiba aku bergegas menuju kantin untuk mengambil kotak cake dan uang hasil penjualan tadi pagi saat menuju ke kantin tiba-tiba Luna dan kawan-kawannya mendorongku sampai aku terjatuh.
“ha ha ha rasain Loe makanya jadi orang jangan punya masalah sama gue tau rasa kan loe ini nggak seberapa tunggu aja pembalasan dari gue” ancaman Luna kepada Sinta.
“ada apa ini?” tanya Mark
“gapapa kok Mark, kita hanya lewat dan mau bantu Sinta yang jatuh yakan genk”saut Luna melempar pertanyaan kepada temannya
“i-iya kok Mark” jawab teman-teman Luna
“udah-udah bubar sana” saut Mark
Kemudian Luna dan teman-temannya pergi meninggalkan Sinta dan Mark
“da da sayang Mark, see you” kata Luna sambil berjalan pergi meninggalkan Mark
“kamu ngapain disini?” tanya Mark pada Sinta
“saya mau ngambil kotak cake di bu Maria, yaudah saya ke kantin dulu ya” jawab Sinta dengan menunduk
“Ternyata yang aku serempet tadi dia, eh cewe tadi namanya siapa ya aku lupa nanya” Mark bicara dalam hati.
Mark menunggu Sinta di depan gerbang, akhirnya Sinta sampai di depan gerbang dan Mark dengan sigap meraih tangan Sinta
“tadi aku belum sempat tanya nama kamu, namaku Mark btw nama kamu siapa?” tanya Mark
“namaku Sinta, sudah ya saya mau pulang sudah di tungguin ibu di rumah” jawab Sinta
“hei rumahmu dimana? Eh maksudnya Sinta dimana rumahmu?” tanya Mark lagi
Tetapi Sinta sudah terlanjur pergi dan tidak mendengar pertanyaan Mark, kemudian Mark berinisiatif mau mengikuti Sinta karena Mark penasaran dengan Sinta.
“pak ayo kita kejar cewe tadi” ujar Mark pada sopirnya
“iya den”jawab pak sopir
Ketika sudah dekat dengan Sinta, Mark menyuruh sopirnya untuk pelan-pelan karena Sinta menggunakan sepeda. Sesampai Sinta di rumah, Mark melihat dan menunggu sebentar setelah beberapa menit kemudian Sinta keluar rumah lagi dan mau pergi entah kemana, akhirnya Mark mengikuti Sinta. Ternyata Sinta pergi ke pasar menjual cake-cake buatan ibunya. Dari situlah Mark merasa bahwa Sinta adalah wanita yang mandiri dan baik, dan Mark ingin mengenal Sinta lebih dekat lagi.
“ hai Sinta” Mark menyapa
Sinta terkejut melihat Mark “ hai juga Mark” jawab Sinta
“kamu ngapain disini?” tanya Mark
“aku sedang membantu ibuku untuk menjual cake ini Mark” jawab Sinta
“kenapa kamu berjualan? Teman-teman kamu asik main dengan temannya kamu kok malah jualan” tanya Mark lagi
“aku jualan untuk meringankan beban ibuku, dan uang hasil jualan ini nanti bisa di gunakan untuk makan dan sisanya di tabung di gunakan untuk membayar sekolahku Mark, ayahku udah lama meninggal sejak aku kelas 2 sd, aku hidup hanya berdua dengan ibuku saja jadi kita sama-sama mencari uang” jawab Sinta dengan meneteskan air mata
“kamu hebat Sinta, aku kagum sama kamu”ujar Mark
Sinta tersipu malu dan hanya menunduk
“aku boleh coba cake buatan ibumu?” tanya Mark
“tentu saja boleh” jawab Sinta
Kemudian Mark mengambil satu cake dan langsung mencobanya, Mark tersenyum dan kemudian berkata “ wahhh ini enak banget, aku beli semua cakemu di bungkusin ya”
“ini beneran Mark? Makasih ya “ jawab Sinta dengan senang karena cake nya di beli semua oleh Mark
“sama-sama, lain waktu boleh main kerumahmu nggak? Aku mau bantu-bantu buat cake ini, enak banget lho” saut Mark
“iya nanti aku bilangin sama ibuku, ini cakenya semua udah siap semuanya ada 20 harganya 100rb” ujar Sinta
“ini uangnya dahh pulang dulu ya, oiya salam buat ibu bilangin cake nya mantap” kata Mark sambil senyum dan beranjak pergi.
Sinta berkemas-kemas dan bergegas pulang kerumah, sesampai di rumah Sinta menceritakan semua kejadian tadi pada ibunya.
“ bu hari ini cake nya habis cepet tadi ada temen aku yang beli semua namanya Mark dan tadi dia nitip salam buat ibu katanya cake ibu enak sekali dan ingin bantu ibu buat cake”
“sejak kapan kamu akrab dengan teman kamu nak?” tanya bu Ratih karena Sinta tidak pernah dekat dengan teman-temannya, karena Sinta memiliki sifat tertutup dan tidak mau berbagi cerita dengan orang lain kecuali ibunya.
(Bu Ratih adalah ibunya Sinta seorang yang baik, lemah lembut dan sangat sayang pada fatimah karena fatimah satu-satunya keluarga yang dimiliki).
“i-itu tadi teman baru aku bu dan aku baru kenalan tadi” jawab Sinta dengan malu-malu
Kemudian Sinta bergegas masuk ke kamar, di kamar Sinta memikirkan tentang Mark, dia berfikir bahwa tidak semua temannya sengejek dia, ada juga yang mensupport nya.
Dari situlah Sinta mulai mengagumi Mark, kemudian Sinta berfikir lagi ‘apa yang akan terjadi jika aku dekat dengan Mark? Apakah Luna dan teman-temannya akan mengejekku terus menerus’ akhirnya Sinta bingung harus bagaimana.
Hari telah berganti, hari itu sekolah libur pagi-pagi sekali Mark sudah di depan rumah Sinta karena Mark ingin membantu Sinta dan ibunya untuk membuat cake dan membantu berjualan.
“Assalamualaikum Sinta” Mark mengetok pintu rumah Sinta
“Waalaikumussalam, siapa?” Sinta bergegas menuju pintu dan membukanya
“aku Mark” jawabnya sambil tersenyum
“eh Mark kok pagi-pagi kamu kesini?”tanya Sinta dengan nada terkejut dengan kedatangan Mark
“aku mau bantu kamu dan ibumu buat cake, boleh kan?” ujar Mark
“boleh kok, ayo silahkan masuk Mark” jawab Sinta
Mereka berdua kemudian menuju dapur untuk membantu bu Ratih
“selamat pagi bu” sapa Mark kepada bu Ratih
“selamat pagi juga nak, eh ini temannya Sinta yang membeli semua cake nya ya?” ujar bu Ratih
“hehehe iya bu, mau bantuin sekaligus mau di ajarin buat cake boleh kan bu?” tanya Mark
“iya nak boleh” jawab Bu Ratih
Mereka membuat cake bersama dan di situlah Mark mulai menyukai Sinta dan Sinta juga mulai menyukai Mark. Setelah selesai membuat cake Mark dan Sinta menuju pasar untuk menjual cake tadi, di sepanjang perjalanan Mark bicara pada Sinta.
“Sinta, setelah aku kenal kamu lebih dekat ternyata kamu orangnya baik, patuh pada ibu aku salut deh sama kamu” ujar Mark
Sinta hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa karena Sinta tersipu malu dengan perkataan Mark. Sesampai di pasar mereka berdua menawarkan cake nya, selang beberapa waktu Mark mendapat telfon dari orang pembantunya yang menyuruhnya untuk pulang karena ayahnya sedang sakit. Akhirnya Mark pamit pada Sinta bahwa dia harus segera pulang karena ayahnya sakit.
“Sinta aku pulang dulu ya, maaf tidak bisa bantuin jual cake nya sampai habis” kata Mark dengan nada rendah
“iya gapapa kok, udah sana cepeten pulang udah di tungguin ayahmu, salam ya buat ayahmu dan semoga cepat sembuh dan makasih ya sudah di bantuin” jawab Sinta sambil tersenyum kepada Mark
Kemudian Mark bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, ternyata rumahnya penuh dengan bendera kuning, Mark bingung kemudian dia cepat-cepat masuk untuk melihat siapa yang meninggal. Sesampainya di dean pintu Mark diam berdiri dan meneteskan air mata, ternyata yang meninggal adalah ayahnya Mark.
“ayahhh bangun yah Mark disini, yah bangunnn maafkan Mark yah selama ini Mark tidak patuh pada ayah, Mark menyesal yah, ayo yah bangun Mark disini buat ayah” kata Mark sambil menangis tersedu-sedu.
Mark tidak patuh pada ayahnya dikarenakan ayahnya tidak memiliki waktu buat dia, ayahnya selalu sibuk dengan tugas-tugas kantornya.
“den ini ada sesuatu buat aden, ayah nitipin ini sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan dia mengatakan bahwa dia sibuk untuk mencukupi semua kebutuhan aden” kata bu Sinah dengan memberikan selembar kertas kepada Mark, bu Sinah ialah seorang pembantu rumah tangga di rumah Mark.
Kemudian Mark membaca kertas tersebut yang berisi, ‘ Mark anakku sayang maafkan ayah selama ini ya nak, ayah tidak ada waktu buat Mark karena ayah mengumpulkan uang buat kebutuhanmu nak, ayah melakukan ini karena dokter sudah memfonis ayah tidak hidup lama lagi maafkan ayah nak. Semoga kamu kelak akan menjadi anak yang sukses, membuat bangga kedua orang tua dan dapat membantu orang lain.’ Mark membaca surat tersebut dengan penuh kekecewaan.
##
Hari telah berganti Mark duduk di kantin seperti biasa dan sikap Mark tidak seperti biasanya karena dia masih terpukul ditinggalkan ayahnya. Kemudian Sinta ke kantin untuk menyetorkan cake nya kepada bu Maria, sesampainya di kantin dia melihat Mark yang sedang diam dan memandang dengan pandangan kosong. Kemudian Sinta menghampiri Mark.
“Mark gimana keadaan ayahmu?” tanya Sinta dengan nada halus
Mark diam dan menunduk, matanya berkaca-kaca dan tidak tahan menahan tagisannya
“Mark kamu kenapa?” tanya Sinta dengan mengusap air mata Mark
“ Ayahku meninggal aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sin, ibuku sudah meninggal sejak lama” jawab Mark dengan tertunduk
“ikhlaskan ayahmu Mark, kamu masih punya aku disini kamu boleh menganggap ibuku sebagai ibumu juga” jawab Sinta dengan senyum kepada Mark
“makasih ya” kata Mark
Kemudian Sinta mengajak Mark untuk masuk ke kelas, Luna dan teman-temannya melihat Fatimah berjalan dengan Mark.
“berani-beraninya si cupu itu jalan sama beb Mark ku” kata Luna pada teman-temannya
Ketika Mark sudah sampai di depan ruang kelasnya kemudian dia masuk
“Sinta aku duluan ya” kata Mark
“iya Mark, semangat belajar ya” jawab Sinta
“iya, kamu juga ya” kata Mark
Kemudian Sinta pergi menuju ruang kelasnya, tiba-tiba Luna dan teman-temannya menghapiri Sinta dan mendorongnya“ hey cupu ngapain loe sama Mark, berani-beraninya kamu deketin Mark”
Sinta hanya diam dan tidak menjawab perkataan Luna, akhirnya Luna mendorong-dorong Sinta dan dia mau jatuh, dengan sigap Mark menangkap Sinta, Sinta terkejut. Mark dan Sinta saling bertatap muka, Luna menarik tangan Sinta dengan kasar.
“apa-apaan kamu Lun jadi cewe kok kasar, kamu ada masalah apa sama Sinta sampai kamu giniin dia” tanya Mark
“gapapa kok Mark” jawab Luna dengan gugup
Kemudian Luna dan teman-temannya meninggalkan Sinta dan Mark.
“kamu gapapa kan sin? Ada yang sakit?” tanya Mark dengan penuh rasa ke khawatiran
“a-aku gapapa kok Mark” jawab Sinta
“kamu ada masalah apa sama Luna, cerita sama aku biar aku bantu selesaikan” kata Mark
“Luna tidak suka kalo aku deket-deket sama kamu Mark” jawab Sinta
“lho kenapa? Apa urusan dia” ujar Mark dengan nada tinggi
“se-sebenarnya Luna menyukai kamu Mark”jawab Sinta
“tapi aku nggak menyukainya, aku sukanya sama kamu” jawab Mark keceplosan
Sinta terdiam dan bimbang, di satu sisi dia senang bahwa Mark menyukainya begitupun dengan dia yang juga menyukai Mark tetapi di salah satu sisi dia sedih karena Luna tidak suka jika Sinta dengan Mark dan akan mengganggunya.
“beneran Sinta aku menyukaimu, apa mungkin aku suka kamu gara-gara aku memakan cake mu ya” candaan Mark pada Sinta.
Sinta hanya tersenyum dan tersipu malu. Kemudian Mark pamit untuk kembali ke kelasnya
“Sinta aku ke kelas dulu ya, nanti kalau pulang aku tunggu di depan gerbang” kata Mark
Sinta menjawab perkataan Mark dengan senyum
##
Bel pulang telah berbunyi seperti biasa Sinta pergi ke kantin terlebih dahulu sebelum pulang, dan Mark bergegas menuju gerbang sekolah untuk menunggu Sinta. Tiba-tiba Luna menghampiri Mark.
“hai Mark, pasti kamu nunggu aku disini ya, kamu kangen sama aku kan?” kata Luna sambil tersenyum
“tidak, aku sedang menunggu Sinta” jawab Mark
Luna merasa kesal dengan jawaban Mark yang ternyata menunggu Sinta
“ngapain si kamu nungguin si cupu itu?” tanya Luna
“itu pacar gue” jawab Mark
“a-apa pacar kamu? Apa nggak salah kamu mau pacaran sama si cupu itu” ujar Luna
“apa urusanmu sama aku terserah aku dong mau pilih siapa, lagi pula Sinta lebih baik daripada kamu” jawab Mark dengan nada tinggi
Tidak sengaja Sinta mendengar semua perbincangan antara Mark dan Luna, saat Sinta menghampiri mereka Luna langsung pergi dengan rasa penuh amarah.
“Mark kok kamu bilang sama Luna kalo kamu pacarku” tanya Sinta
“gapapa biar dia nggak nge gangguin kamu lagi” jawab Mark
“ta-tapi Mark kan kasian Luna, dia pasti sedih mendengar perkataanmu tadi” kata Sinta dengan rasa cemas
“gausah dipikir Sinta, dia aja nyakitin kamu malah kamu belain dia” jawab Mark kagum dengan Sinta yang memiliki hati baik
Kemudian Mark mengajak Sinta untuk pulang bareng sama dia, akhirnya mereka pulang dengan menaiki sepeda Sinta, di sepanjang perjalanan menuju rumah Sinta, Mark selalu bicara tentang Sinta, lama-lama Sinta tersipu malu dan hanya terdiam mendengar perkataan-perkataan dari Mark. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya Mark mengayuh sepeda dengan cepat dengan sigap Sinta langsung memeluk Mark dari belakang karena takut jatuh, Mark merasa senang dan sepeda di kayuhnya lebih cepat karena Mark berfikir ‘jika laju sepeda lebih cepat pasti Sinta akan memelukku lebih erat lagi’.
“Mark pelan-pelan aku takut jatuh” kata Sinta
“makanya pegangan yang erat biar gak jatuh” saut Mark
“ihh apaan si kamu Mark” jawab Sinta dengan malu-malu
Mereka berdua basah kuyup karena hujan-hujan, sesampai di rumah bu Ratih menyuruh mereka berdua untuk ganti baju agar mereka tidak sakit
“ayo nak masuk trus ganti baju ya, habis itu langsung menuju ruang makan nanti kita makan sama-sama, ibu udah siapin semuanya” kata bu Ratih kepada Mark dan Sinta
“iya bu” jawab Sinta
Mark hanya tersenyum dan menganggukkan kepala
Setelah selesai ganti baju Mark dan Sinta menuju ruang makan, ternyata bu Ratih sudah menunggu mereka. Sesampai di ruang makan
“ayo nak mari-mari duduk gausah malu-malu anggap saja rumah sendiri nak, anggap ibu sebagai ibumu” ujar bu Ratih pada Mark
“i-iya bu makasih ya, maaf udah ngerepotin ibu” jawab Mark
“nggak kok ibu nggak repot, ibu malah senang karena rumah jadi rame kalo kamu ikut gabung disini” saut bu Ratih
Mark tersenyum dengan sangat bahagia. Dia merasa bahwa keluarga Sinta memiiki sifat yang baik dan ramah pada setiap orang. Setelah mereka selesai makan bu Ratih menemui Mark dan bertanya-tanya pada Mark tentang keluarganya.
“Mark ibu mau nanya, rumah kamu dimana?” tanya bu Ratih
“rumah saya di jalan jeruk nomor 20 bu” jawab Mark
“disana kamu tinggal dengan siapa nak?” tanya bu Ratih
“awalnya saya tinggal dengan orang tua saya bu, tapi ibu saya meninggal terkena serangan jantung saat aku duduk di kelas 6SD, dan ayah saya baru meninggal kemaren akibat sakit kanker, tetapi ayah saya tidak pernah cerita kalau sakit setahu saya ayah orang yang sibuk dan hanya mentingin kerjaan kantornya hingga lupa sama saya, tapi ternyata itu semua salah, selama ini ayah kerja untuk memenuhi semua kebutuhanku bu, aku menyesal telah membenci ayah” mark menunduk dan matanya berkaca-kaca
Bu Ratih mengelus kepala Mark dan berkata “semua orang tua bekerja untuk membahagiakan anaknya nak, tidak ada orang tua yang mementingkan dirinya sendiri, mulai sekarang kamu harus jadi anak laki-laki yang mandiri dan kuat. Disini masih ada ibu kamu boleh menganggap ibu sebagai ibu kamu” bu ratih memeluk Mark
“makasih ya bu” jawab Mark dengan mengusap air matanya
Setelah itu Mark pamit pulang kepada bu Ratih dan Sinta
“bu Ratih, Sinta aku pulang dulu ya, makasih atas semua kebaikan kalian aku tidak akan pernah melupakannya, aku pulang dulu ya” Mark berpamitan dan mencium tangan bu Ratih
“iya sama-sama nak, hati-hati di jalan ya” saut bu Ratih, Sinta tersenyum melihat Mark yang mulai akrab dengan ibunya.
Keesokan harinya Mark begegas pergi sekolah dan menju ke kantin untuk menemui Sinta, sesampainya Mark di kantin Sinta baru menyiapkan cake nya di kantin. Setelah selesai Mark langsung mendekati Sinta.
“Sin aku punya ide buat cake mu agar lebih maju” kata Mark dengan gembira
“wah gimana Mark?” tanya Sinta
“gimana kalau kita bisnis online? Nanti aku yang bagian promosi dan mengatarkan cake-cakenya?” tanya Mark
“kamu nggak keberatan Mark?” tanya Sinta
“enggak lah sin, aku malah senang bisa bantu kamu” jawab Mark dengan senyum
“ok deh kalau begitu, kapan kita akan memulainya?”tanya Sinta
“Nanti habis pulang sekolah aku kerumahmu buat foto-fotoin cakemu, dan satu lagi kalau kamu buat cake character gimana? Bentuk cakenya sesuai pemesan kamu sanggup nggak? Tanya Mark
“bisa bisa” jawab Sinta
Kring kring kring bel masuk telah berbunyi Mark dan Sinta menuju kelas masing-masing.
##
Ini adalah hati pertama Sinta masuk sekolah, dia sekolah di SMA Padjajaran. Pagi-pagi Sinta bangun tidur dan aku segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah, sebelum berangkat sekolah dia membantu ibunya membungkus cake yang akan dia bawa ke sekolah untuk dititipkan ke kantin sekolah. Setelah selasai mebungkus cake dia bergegas berangkat sekolah naik sepeda peninggalan dari ayahnya.
“Tin tin tin” suara klakson mobil berbunyi
“gubrak” aku dan sepedaku terjatuh, bajuku kotor dan cake ku berantakan , aku menangis dan mobil yang menyempretku pergi begitu saja, aku segera memunguti semua cakeku dan melanjutkan ke sekolah. Setelah sampai di sekolah aku langsung menuju ke kantin.
“ nak kenapa kok cake nya begini?” tanya bu maria.
(Bu maria adalah penjual makanan di kantin sekolah yang baik dan ramah).
“ tadi habis jatuh terserempet mobil bu dan mobilnya pergi begitu saja, maapkan saya ya bu” jawab Sinta
(Sinta adalah seorang gadis yang hanya tinggal dengan ibunya karena ayahnya sudah meninggal, dia memiliki sifat yang pemalu, mudah memaafkan dan suka membantu ibunya, dia tidak disukai teman-temannya karena dia dianggap cupu dan kampungan).
“ yaudah gapapa nak, lain kali hati-hati ya” jawab bu maria
“iya bu” kemudian Sinta menata cakenya di meja-meja yang telah di sediakan
“ini udah rapi semua cakenya bu saya permisi dulu ya bu mau ke kelas dulu” ujar Sinta
“ iya nak belajar yang rajin ya, nanti kalo udah selesai kembali kesini lagi ngambil kotak cake dan uang hasil penjualan” saut bu maria
“ke buk makasih ya” jawab Sinta
Sinta menuju ke ruang kelasnya, ketika mau naik tangga teman-temannya melihat Sinta dan mengejeknya dengan sebutan anak kampungan dan cupu. Tetapi Sinta hanya diam dan tidak menanggapi ejekan teman-temannya. Ketika mau memasuki ruang kelas tiba-tiba ada yang menabrak Sinta dari dalam ruang kelas.
“kamu punya mata tidak, jalan nggak liat-liat” kata Mark sambil marah-marah
(Mark adalah ketua osis kelas yang banyak digemari semua siswi di SMA Padjajaran karena kegantengannya dan cool).
“ma-maaf saya tadi tidak tahu kalau kamu mau keluar dari ruang kelas” jawab Sinta
Mark menatapnya dan langsung pergi, lalu Sinta masuk dan langsung duduk.
“ heh Loe tadi ngapain sama Mark sok akrab lagi, gausah sok cantik deh, loe itu cupu dan nggak pantes sama Mark” kata Luna and the genk nya.
(Luna adalah gadis cantik, kekinian, dan menggunakan segala cara buat dapetin Mark karena dia menyukai Mark setengah mati).
“tadi nggak sengaja aku menabrak Mark” jawab Sinta
“gausah alasan deh loe gue tahu loe pasti modus suoaya Mark kasian sama loe kan” jawab Luna degan nada tinggi
“ti-tidak saya nggak ada maksud gitu kok” jawab Sinta dengan menunduk
Waktu pulang telah tiba aku bergegas menuju kantin untuk mengambil kotak cake dan uang hasil penjualan tadi pagi saat menuju ke kantin tiba-tiba Luna dan kawan-kawannya mendorongku sampai aku terjatuh.
“ha ha ha rasain Loe makanya jadi orang jangan punya masalah sama gue tau rasa kan loe ini nggak seberapa tunggu aja pembalasan dari gue” ancaman Luna kepada Sinta.
“ada apa ini?” tanya Mark
“gapapa kok Mark, kita hanya lewat dan mau bantu Sinta yang jatuh yakan genk”saut Luna melempar pertanyaan kepada temannya
“i-iya kok Mark” jawab teman-teman Luna
“udah-udah bubar sana” saut Mark
Kemudian Luna dan teman-temannya pergi meninggalkan Sinta dan Mark
“da da sayang Mark, see you” kata Luna sambil berjalan pergi meninggalkan Mark
“kamu ngapain disini?” tanya Mark pada Sinta
“saya mau ngambil kotak cake di bu Maria, yaudah saya ke kantin dulu ya” jawab Sinta dengan menunduk
“Ternyata yang aku serempet tadi dia, eh cewe tadi namanya siapa ya aku lupa nanya” Mark bicara dalam hati.
Mark menunggu Sinta di depan gerbang, akhirnya Sinta sampai di depan gerbang dan Mark dengan sigap meraih tangan Sinta
“tadi aku belum sempat tanya nama kamu, namaku Mark btw nama kamu siapa?” tanya Mark
“namaku Sinta, sudah ya saya mau pulang sudah di tungguin ibu di rumah” jawab Sinta
“hei rumahmu dimana? Eh maksudnya Sinta dimana rumahmu?” tanya Mark lagi
Tetapi Sinta sudah terlanjur pergi dan tidak mendengar pertanyaan Mark, kemudian Mark berinisiatif mau mengikuti Sinta karena Mark penasaran dengan Sinta.
“pak ayo kita kejar cewe tadi” ujar Mark pada sopirnya
“iya den”jawab pak sopir
Ketika sudah dekat dengan Sinta, Mark menyuruh sopirnya untuk pelan-pelan karena Sinta menggunakan sepeda. Sesampai Sinta di rumah, Mark melihat dan menunggu sebentar setelah beberapa menit kemudian Sinta keluar rumah lagi dan mau pergi entah kemana, akhirnya Mark mengikuti Sinta. Ternyata Sinta pergi ke pasar menjual cake-cake buatan ibunya. Dari situlah Mark merasa bahwa Sinta adalah wanita yang mandiri dan baik, dan Mark ingin mengenal Sinta lebih dekat lagi.
“ hai Sinta” Mark menyapa
Sinta terkejut melihat Mark “ hai juga Mark” jawab Sinta
“kamu ngapain disini?” tanya Mark
“aku sedang membantu ibuku untuk menjual cake ini Mark” jawab Sinta
“kenapa kamu berjualan? Teman-teman kamu asik main dengan temannya kamu kok malah jualan” tanya Mark lagi
“aku jualan untuk meringankan beban ibuku, dan uang hasil jualan ini nanti bisa di gunakan untuk makan dan sisanya di tabung di gunakan untuk membayar sekolahku Mark, ayahku udah lama meninggal sejak aku kelas 2 sd, aku hidup hanya berdua dengan ibuku saja jadi kita sama-sama mencari uang” jawab Sinta dengan meneteskan air mata
“kamu hebat Sinta, aku kagum sama kamu”ujar Mark
Sinta tersipu malu dan hanya menunduk
“aku boleh coba cake buatan ibumu?” tanya Mark
“tentu saja boleh” jawab Sinta
Kemudian Mark mengambil satu cake dan langsung mencobanya, Mark tersenyum dan kemudian berkata “ wahhh ini enak banget, aku beli semua cakemu di bungkusin ya”
“ini beneran Mark? Makasih ya “ jawab Sinta dengan senang karena cake nya di beli semua oleh Mark
“sama-sama, lain waktu boleh main kerumahmu nggak? Aku mau bantu-bantu buat cake ini, enak banget lho” saut Mark
“iya nanti aku bilangin sama ibuku, ini cakenya semua udah siap semuanya ada 20 harganya 100rb” ujar Sinta
“ini uangnya dahh pulang dulu ya, oiya salam buat ibu bilangin cake nya mantap” kata Mark sambil senyum dan beranjak pergi.
Sinta berkemas-kemas dan bergegas pulang kerumah, sesampai di rumah Sinta menceritakan semua kejadian tadi pada ibunya.
“ bu hari ini cake nya habis cepet tadi ada temen aku yang beli semua namanya Mark dan tadi dia nitip salam buat ibu katanya cake ibu enak sekali dan ingin bantu ibu buat cake”
“sejak kapan kamu akrab dengan teman kamu nak?” tanya bu Ratih karena Sinta tidak pernah dekat dengan teman-temannya, karena Sinta memiliki sifat tertutup dan tidak mau berbagi cerita dengan orang lain kecuali ibunya.
(Bu Ratih adalah ibunya Sinta seorang yang baik, lemah lembut dan sangat sayang pada fatimah karena fatimah satu-satunya keluarga yang dimiliki).
“i-itu tadi teman baru aku bu dan aku baru kenalan tadi” jawab Sinta dengan malu-malu
Kemudian Sinta bergegas masuk ke kamar, di kamar Sinta memikirkan tentang Mark, dia berfikir bahwa tidak semua temannya sengejek dia, ada juga yang mensupport nya.
Dari situlah Sinta mulai mengagumi Mark, kemudian Sinta berfikir lagi ‘apa yang akan terjadi jika aku dekat dengan Mark? Apakah Luna dan teman-temannya akan mengejekku terus menerus’ akhirnya Sinta bingung harus bagaimana.
Hari telah berganti, hari itu sekolah libur pagi-pagi sekali Mark sudah di depan rumah Sinta karena Mark ingin membantu Sinta dan ibunya untuk membuat cake dan membantu berjualan.
“Assalamualaikum Sinta” Mark mengetok pintu rumah Sinta
“Waalaikumussalam, siapa?” Sinta bergegas menuju pintu dan membukanya
“aku Mark” jawabnya sambil tersenyum
“eh Mark kok pagi-pagi kamu kesini?”tanya Sinta dengan nada terkejut dengan kedatangan Mark
“aku mau bantu kamu dan ibumu buat cake, boleh kan?” ujar Mark
“boleh kok, ayo silahkan masuk Mark” jawab Sinta
Mereka berdua kemudian menuju dapur untuk membantu bu Ratih
“selamat pagi bu” sapa Mark kepada bu Ratih
“selamat pagi juga nak, eh ini temannya Sinta yang membeli semua cake nya ya?” ujar bu Ratih
“hehehe iya bu, mau bantuin sekaligus mau di ajarin buat cake boleh kan bu?” tanya Mark
“iya nak boleh” jawab Bu Ratih
Mereka membuat cake bersama dan di situlah Mark mulai menyukai Sinta dan Sinta juga mulai menyukai Mark. Setelah selesai membuat cake Mark dan Sinta menuju pasar untuk menjual cake tadi, di sepanjang perjalanan Mark bicara pada Sinta.
“Sinta, setelah aku kenal kamu lebih dekat ternyata kamu orangnya baik, patuh pada ibu aku salut deh sama kamu” ujar Mark
Sinta hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa karena Sinta tersipu malu dengan perkataan Mark. Sesampai di pasar mereka berdua menawarkan cake nya, selang beberapa waktu Mark mendapat telfon dari orang pembantunya yang menyuruhnya untuk pulang karena ayahnya sedang sakit. Akhirnya Mark pamit pada Sinta bahwa dia harus segera pulang karena ayahnya sakit.
“Sinta aku pulang dulu ya, maaf tidak bisa bantuin jual cake nya sampai habis” kata Mark dengan nada rendah
“iya gapapa kok, udah sana cepeten pulang udah di tungguin ayahmu, salam ya buat ayahmu dan semoga cepat sembuh dan makasih ya sudah di bantuin” jawab Sinta sambil tersenyum kepada Mark
Kemudian Mark bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, ternyata rumahnya penuh dengan bendera kuning, Mark bingung kemudian dia cepat-cepat masuk untuk melihat siapa yang meninggal. Sesampainya di dean pintu Mark diam berdiri dan meneteskan air mata, ternyata yang meninggal adalah ayahnya Mark.
“ayahhh bangun yah Mark disini, yah bangunnn maafkan Mark yah selama ini Mark tidak patuh pada ayah, Mark menyesal yah, ayo yah bangun Mark disini buat ayah” kata Mark sambil menangis tersedu-sedu.
Mark tidak patuh pada ayahnya dikarenakan ayahnya tidak memiliki waktu buat dia, ayahnya selalu sibuk dengan tugas-tugas kantornya.
“den ini ada sesuatu buat aden, ayah nitipin ini sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan dia mengatakan bahwa dia sibuk untuk mencukupi semua kebutuhan aden” kata bu Sinah dengan memberikan selembar kertas kepada Mark, bu Sinah ialah seorang pembantu rumah tangga di rumah Mark.
Kemudian Mark membaca kertas tersebut yang berisi, ‘ Mark anakku sayang maafkan ayah selama ini ya nak, ayah tidak ada waktu buat Mark karena ayah mengumpulkan uang buat kebutuhanmu nak, ayah melakukan ini karena dokter sudah memfonis ayah tidak hidup lama lagi maafkan ayah nak. Semoga kamu kelak akan menjadi anak yang sukses, membuat bangga kedua orang tua dan dapat membantu orang lain.’ Mark membaca surat tersebut dengan penuh kekecewaan.
##
Hari telah berganti Mark duduk di kantin seperti biasa dan sikap Mark tidak seperti biasanya karena dia masih terpukul ditinggalkan ayahnya. Kemudian Sinta ke kantin untuk menyetorkan cake nya kepada bu Maria, sesampainya di kantin dia melihat Mark yang sedang diam dan memandang dengan pandangan kosong. Kemudian Sinta menghampiri Mark.
“Mark gimana keadaan ayahmu?” tanya Sinta dengan nada halus
Mark diam dan menunduk, matanya berkaca-kaca dan tidak tahan menahan tagisannya
“Mark kamu kenapa?” tanya Sinta dengan mengusap air mata Mark
“ Ayahku meninggal aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sin, ibuku sudah meninggal sejak lama” jawab Mark dengan tertunduk
“ikhlaskan ayahmu Mark, kamu masih punya aku disini kamu boleh menganggap ibuku sebagai ibumu juga” jawab Sinta dengan senyum kepada Mark
“makasih ya” kata Mark
Kemudian Sinta mengajak Mark untuk masuk ke kelas, Luna dan teman-temannya melihat Fatimah berjalan dengan Mark.
“berani-beraninya si cupu itu jalan sama beb Mark ku” kata Luna pada teman-temannya
Ketika Mark sudah sampai di depan ruang kelasnya kemudian dia masuk
“Sinta aku duluan ya” kata Mark
“iya Mark, semangat belajar ya” jawab Sinta
“iya, kamu juga ya” kata Mark
Kemudian Sinta pergi menuju ruang kelasnya, tiba-tiba Luna dan teman-temannya menghapiri Sinta dan mendorongnya“ hey cupu ngapain loe sama Mark, berani-beraninya kamu deketin Mark”
Sinta hanya diam dan tidak menjawab perkataan Luna, akhirnya Luna mendorong-dorong Sinta dan dia mau jatuh, dengan sigap Mark menangkap Sinta, Sinta terkejut. Mark dan Sinta saling bertatap muka, Luna menarik tangan Sinta dengan kasar.
“apa-apaan kamu Lun jadi cewe kok kasar, kamu ada masalah apa sama Sinta sampai kamu giniin dia” tanya Mark
“gapapa kok Mark” jawab Luna dengan gugup
Kemudian Luna dan teman-temannya meninggalkan Sinta dan Mark.
“kamu gapapa kan sin? Ada yang sakit?” tanya Mark dengan penuh rasa ke khawatiran
“a-aku gapapa kok Mark” jawab Sinta
“kamu ada masalah apa sama Luna, cerita sama aku biar aku bantu selesaikan” kata Mark
“Luna tidak suka kalo aku deket-deket sama kamu Mark” jawab Sinta
“lho kenapa? Apa urusan dia” ujar Mark dengan nada tinggi
“se-sebenarnya Luna menyukai kamu Mark”jawab Sinta
“tapi aku nggak menyukainya, aku sukanya sama kamu” jawab Mark keceplosan
Sinta terdiam dan bimbang, di satu sisi dia senang bahwa Mark menyukainya begitupun dengan dia yang juga menyukai Mark tetapi di salah satu sisi dia sedih karena Luna tidak suka jika Sinta dengan Mark dan akan mengganggunya.
“beneran Sinta aku menyukaimu, apa mungkin aku suka kamu gara-gara aku memakan cake mu ya” candaan Mark pada Sinta.
Sinta hanya tersenyum dan tersipu malu. Kemudian Mark pamit untuk kembali ke kelasnya
“Sinta aku ke kelas dulu ya, nanti kalau pulang aku tunggu di depan gerbang” kata Mark
Sinta menjawab perkataan Mark dengan senyum
##
Bel pulang telah berbunyi seperti biasa Sinta pergi ke kantin terlebih dahulu sebelum pulang, dan Mark bergegas menuju gerbang sekolah untuk menunggu Sinta. Tiba-tiba Luna menghampiri Mark.
“hai Mark, pasti kamu nunggu aku disini ya, kamu kangen sama aku kan?” kata Luna sambil tersenyum
“tidak, aku sedang menunggu Sinta” jawab Mark
Luna merasa kesal dengan jawaban Mark yang ternyata menunggu Sinta
“ngapain si kamu nungguin si cupu itu?” tanya Luna
“itu pacar gue” jawab Mark
“a-apa pacar kamu? Apa nggak salah kamu mau pacaran sama si cupu itu” ujar Luna
“apa urusanmu sama aku terserah aku dong mau pilih siapa, lagi pula Sinta lebih baik daripada kamu” jawab Mark dengan nada tinggi
Tidak sengaja Sinta mendengar semua perbincangan antara Mark dan Luna, saat Sinta menghampiri mereka Luna langsung pergi dengan rasa penuh amarah.
“Mark kok kamu bilang sama Luna kalo kamu pacarku” tanya Sinta
“gapapa biar dia nggak nge gangguin kamu lagi” jawab Mark
“ta-tapi Mark kan kasian Luna, dia pasti sedih mendengar perkataanmu tadi” kata Sinta dengan rasa cemas
“gausah dipikir Sinta, dia aja nyakitin kamu malah kamu belain dia” jawab Mark kagum dengan Sinta yang memiliki hati baik
Kemudian Mark mengajak Sinta untuk pulang bareng sama dia, akhirnya mereka pulang dengan menaiki sepeda Sinta, di sepanjang perjalanan menuju rumah Sinta, Mark selalu bicara tentang Sinta, lama-lama Sinta tersipu malu dan hanya terdiam mendengar perkataan-perkataan dari Mark. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya Mark mengayuh sepeda dengan cepat dengan sigap Sinta langsung memeluk Mark dari belakang karena takut jatuh, Mark merasa senang dan sepeda di kayuhnya lebih cepat karena Mark berfikir ‘jika laju sepeda lebih cepat pasti Sinta akan memelukku lebih erat lagi’.
“Mark pelan-pelan aku takut jatuh” kata Sinta
“makanya pegangan yang erat biar gak jatuh” saut Mark
“ihh apaan si kamu Mark” jawab Sinta dengan malu-malu
Mereka berdua basah kuyup karena hujan-hujan, sesampai di rumah bu Ratih menyuruh mereka berdua untuk ganti baju agar mereka tidak sakit
“ayo nak masuk trus ganti baju ya, habis itu langsung menuju ruang makan nanti kita makan sama-sama, ibu udah siapin semuanya” kata bu Ratih kepada Mark dan Sinta
“iya bu” jawab Sinta
Mark hanya tersenyum dan menganggukkan kepala
Setelah selesai ganti baju Mark dan Sinta menuju ruang makan, ternyata bu Ratih sudah menunggu mereka. Sesampai di ruang makan
“ayo nak mari-mari duduk gausah malu-malu anggap saja rumah sendiri nak, anggap ibu sebagai ibumu” ujar bu Ratih pada Mark
“i-iya bu makasih ya, maaf udah ngerepotin ibu” jawab Mark
“nggak kok ibu nggak repot, ibu malah senang karena rumah jadi rame kalo kamu ikut gabung disini” saut bu Ratih
Mark tersenyum dengan sangat bahagia. Dia merasa bahwa keluarga Sinta memiiki sifat yang baik dan ramah pada setiap orang. Setelah mereka selesai makan bu Ratih menemui Mark dan bertanya-tanya pada Mark tentang keluarganya.
“Mark ibu mau nanya, rumah kamu dimana?” tanya bu Ratih
“rumah saya di jalan jeruk nomor 20 bu” jawab Mark
“disana kamu tinggal dengan siapa nak?” tanya bu Ratih
“awalnya saya tinggal dengan orang tua saya bu, tapi ibu saya meninggal terkena serangan jantung saat aku duduk di kelas 6SD, dan ayah saya baru meninggal kemaren akibat sakit kanker, tetapi ayah saya tidak pernah cerita kalau sakit setahu saya ayah orang yang sibuk dan hanya mentingin kerjaan kantornya hingga lupa sama saya, tapi ternyata itu semua salah, selama ini ayah kerja untuk memenuhi semua kebutuhanku bu, aku menyesal telah membenci ayah” mark menunduk dan matanya berkaca-kaca
Bu Ratih mengelus kepala Mark dan berkata “semua orang tua bekerja untuk membahagiakan anaknya nak, tidak ada orang tua yang mementingkan dirinya sendiri, mulai sekarang kamu harus jadi anak laki-laki yang mandiri dan kuat. Disini masih ada ibu kamu boleh menganggap ibu sebagai ibu kamu” bu ratih memeluk Mark
“makasih ya bu” jawab Mark dengan mengusap air matanya
Setelah itu Mark pamit pulang kepada bu Ratih dan Sinta
“bu Ratih, Sinta aku pulang dulu ya, makasih atas semua kebaikan kalian aku tidak akan pernah melupakannya, aku pulang dulu ya” Mark berpamitan dan mencium tangan bu Ratih
“iya sama-sama nak, hati-hati di jalan ya” saut bu Ratih, Sinta tersenyum melihat Mark yang mulai akrab dengan ibunya.
Keesokan harinya Mark begegas pergi sekolah dan menju ke kantin untuk menemui Sinta, sesampainya Mark di kantin Sinta baru menyiapkan cake nya di kantin. Setelah selesai Mark langsung mendekati Sinta.
“Sin aku punya ide buat cake mu agar lebih maju” kata Mark dengan gembira
“wah gimana Mark?” tanya Sinta
“gimana kalau kita bisnis online? Nanti aku yang bagian promosi dan mengatarkan cake-cakenya?” tanya Mark
“kamu nggak keberatan Mark?” tanya Sinta
“enggak lah sin, aku malah senang bisa bantu kamu” jawab Mark dengan senyum
“ok deh kalau begitu, kapan kita akan memulainya?”tanya Sinta
“Nanti habis pulang sekolah aku kerumahmu buat foto-fotoin cakemu, dan satu lagi kalau kamu buat cake character gimana? Bentuk cakenya sesuai pemesan kamu sanggup nggak? Tanya Mark
“bisa bisa” jawab Sinta
Kring kring kring bel masuk telah berbunyi Mark dan Sinta menuju kelas masing-masing.
##
Langganan:
Postingan (Atom)